Jumat, 06 Januari 2012

I Love You, Pa! (Cerpen)

           Hai! Namaku Clarisa. Clarissa Tiandra Hartanto tepatnya. Aku berumur 16 tahun dan akan menjadi 17 tahun nanti pada tanggal 26 desember! Aku tinggal bersama seseorang yang tidak aku inginkan dan dengan terpaksa aku menyebut dia.. Papa. Aku cuman tinggal sama papa karena mama udah meninggal sejak aku masih kecil. Mama meninggal dalam kecelakaan mobil sama papa 2 tahun lalu. Aku kecewa sama papa, dia sebagai pengemudi harusnya bisa mengemudikan mobil dengan baik, bukan malah melayangkan nyawa manusia lain. Kenapa dalam kecelakaan itu nyawa mama tidak bisa terselamatkan sedangkan papa hanya mengalami lumpuh di kaki? Meskipun kaki kanan papa harus diamputasi tetap saja dia masih bisa hidup tapi mama? Dia sudah berada di alam yang berbeda. Aku sunggu merindukannya. Aku merindukan kebersamaanku dengan mama! Dulu saat papa masih mempunyai fisik yang sempurna dia selalu bekerja kantoran, lupa sama aku dan mama, sibuk mencari benda fana dan tidak memberikan kasih sayang cukup kepadaku. Namun, setelah kecelakaan itu papa tidak lagi bekerja kantoran, dia memilih untuk berkarya sebagai pelukis. Aku tidak suka melukis, aku suka bermain piano. Aku akui, jariku cukup piawai memainkan tuts-tuts piano sehingga menghasilkan melodi yang indah. Dan, aku mendapatkan bakat ini karena keturunan dari orang yang telah membuat mamaku meninggalkan aku. Meskipun sekarang dia memberikan perhatian yang sangat cukup kepadaku, tetap saja aku tidak mau memaafkannya! Mama harus kembali baru aku mau memaafkannya!

        "cla, bangun Cla..tok tok tok! Cla, hayo sudah pagi. Nanti kamu telat loh Cla!"
*clekk* aku membuka pintu kamar ku yang daritadi diketuk oleh seseorang yang menyebalkan itu. Aku hanya menatapnya dengan tatapan sinis. "Eh, kamu sudah bangun Cla. Yasudah kamu siap-siap ya habis itu kamu sarapan bareng papa, oke?" Katanya. Aku hanya memutar kedua bola mataku dan kembali menutup pintu kamar. Aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang diluar. Paling-paling hanya sedang berjalan kebawah. "Eh, kamu sudah siap Cla? Ayok sarapan sama papa." Kata lelaki yang sedang duduk di meja makan dan menyiapkan sarapan pagi roti untukku dan untuk dirinya. "Aku nggak laper." Kata ku sambil menghempaskan badan ke kursi meja makan. "Loh, kok gitu? Ayok dong kan papa.." "Papa?!" Sela ku, "denger ya OM aku nggak mau manggil OM dengan sebutan 'papa' lagi sebelum mama hidup lagi!" Bentakku. "Maafkan papa, Cla.. Papa tau papa.." Katanya sambil terseduh-seduh tak kuasa menahan tangis, "Papa memang.." "Halah! Udahlah masih pagi aja udah bikin bete. Aku mau pergi sekolah aja. Maa aku pergi ya!" Ucapku. Ya, aku memberikan salam kepada mama. Aku merasa bahwa mama masih ada disitu, dia belum pergi! Dan aku tidak mau memberikan salam kepada bapak itu. Tidak akan! Tidak sudi aku! "Cla biar papa antar!" aku mendengar lelaki itu berteriak saat aku sudah menapakan kaki ku didepan pintu gerbang. Aku terdiam sesaat. "Huh!" Aku menghela nafas dengan kuat dan segera berlari untuk mendapatkan angkutan umum tercepat. Aku tidak sudi diantar dengan orang seperti dia. Saat aku telah masuk kedalam sebuah angkot, aku melihat dia yang lelah didepan pintu gerbang rumah karena lelah mengejarku dengan satu kaki dan dua tongkat yang mengapit di ketiaknya.
"Cla.." Gumam orang itu, "Hati-hati ya nak.." Air matanya terjatuh sedikit demi sedikit.

           Aku menapakkan kakiku diatas aspal jalan. Aku menggerakankan tanganku untuk mengipas leherku yang kepanasan karena kurangnya udara yang kudapat di dalam angkot tadi. Aku berjalan sambil terus mengipas leherku dengan tanganku sampai tiba-tiba.. BUK! "Aw! Maaf..maaf.." Kataku lalu memfokuskan pandanganku untuk melihat siapa orang yang tidak sengaja aku tabrak barusan. Orang itu memutar tubuhnya dan... "Ngapain om kesini?!" Tanyaku ketus, "ini Cla, tadi uang jajan mu ketinggalan jadi papa anter ke sekolah kamu. Takut kamu nggak bisa makan." Jelas nya. Aku mengambil uang itu dengan kasar dari tangannya kemudian masuk kedalam sekolah tanpa meninggalkan sepatah katapun kepada orang itu. "Cla, yang tadi bokap lu?" Kata Nella salah seorang teman sekelas ku. "Bokap? Ha? Orang kayak gitu bokap gua? Haha bukanlah!" Aku berbohong. "Masa sih? Terus dia siapa dong?" Tanya Nella seakan meminta penjelasan yang pasti dariku. "Cuman pembantu gue.." Jawabku singkat. "Ohh. Yaudah deh masuk yuk!" Ajak Nella. Aku hanya menganggukan kepalaku dan ikut jalan bersamanya kedalam kelas.

          Sekolah pun berakhir. Hari ini tidak ada rencana apa-apa dan aku juga tidak punya les. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah, melihat wajah orang itu lagi! Hm! Setiap aku melihat wajahnya, aku selalu teringat akan sosok mama yang selalu menemaniku, aku kangen mama. Sesampainya aku dirumah, aku masuk begitu saja, tidak memberi salam atau pun mencoba mencari sosok lelaki itu. Saat aku menapakan kaki ku di tangga pertama.. "Cla, kok tumben nak pulang cepat?" Kata lelaki itu. Aku tidak berpaling untuk melihat wajahnya, aku juga tidak mengatakan apa-apa, aku teruskan tapakan kaki ku dan berjalan semakin cepat menaiki tangga. Di lantai atas aku mengintip sedikit apa yang sedang dia lakukan. Aku lihat dia mengusap matanya dan kembali berjalan ke arah ruang melukisnya. Aku berjalan ke kamarku untuk mengganti pakaian. Seusai aku mengganti pakaian ku, aku duduk didepan sebuah piano putih yang terdapat di lantai 2 rumah ku. Aku membuka penutup tuts piano dengan perlahan, membuka buku lagu piano ke halaman 16. Pada halaman 16 adalah lagu kesukaan mama, sewaktu dia masih hidup, dia suka sekali memintaku untuk memain kan lagu ini untuknya. Lagu ini berjudul Melody Of Life. Aku sudah hafal dengan tiap not nya sehingga dengan menutup matapun aku bisa memainkannya. Aku bermain dengan begitu rileks. Melepaskan semua rasa kangen, kecewa, dan bebanku diatas tuts-tuts piano. Dibawah, orang itu sedang melukis, dia tersnyum mendengar permainan jariku. Saat lagu Melody Of Life telah selesai aku mainkan, aku hanya berkata, "Ma, aku kangen mama!" Tiba-tiba hujan turun. Aku tidak suka hujan, membuat suasana hatiku semakin merindukan mama. Aku segera masuk ke kamar untuk tidur.

              Hari ini adalah hari les pianoku, hari sabtu. Dan hari ini aku mendapat kabar bahwa, aku akan konser! Iya! 3 bulan lagi aku akan konser! Ha senangnya! Dan tanggal aku konser bertepatan dengan hari ulangtahunku, semoga saja konser ini dapat meninggalkan kenangan manis di ulangtahun sweet 17 ku nanti, setelah 2 tahun tidak merasakan hal yang spesial selama aku ulangtahun karena ditinggal dengan orang yang paling aku sayang. Aku nggak ada niat buat ngasih tau papa tapi dia bisa tau sendiri karena mendengar percakapanku dengan foto mama saat aku ingin memberi tahu kabar bahagia ini. Lagu yang akan ku mainkan juga lagu kesukaan mama! Aku akan terus berlatih! Baiklah aku akan berlatih. Saat aku sedang asik memainkan piano, aku merasa tangan kanan ku begitu gatal, aku terus menggaruknya, aku rasa ini hanya gatal biasa. 1 bulan berlaru dan rasa gatal ini semakin parah hingga merambat ke lenganku, aku tidak tahu apa yang terjadi. Dengan terpaksa aku memberitahukan hal ini kepada papa, dia sangat panik bahkan sampai menangis dan langsung membawaku ke rumah sakit. Kata dokter aku terkena virus yang cukup parah menyebabkan gatal di daerah tangan dan pilihan satu-satunya adalah....amputasi. Kalau aku tidak mau diamputasi, gatal ini akan merambat ke seluruh tubuh, menjadi tambah parah dan bisa menyebabkan kematian. Sungguh hal yang berat untukku. 1 minggu aku mengurung diri dikamar, gatal ini semakin menyakitkan aku, sudah beberapa kali aku mencoba untuk menahan rasa gatal ini tapi aku tak sanggup! Aku berteriak! Berteriak sekeras mungkin agar gatal ini pergi tapi tetap saja tidak berhasil! "AAAAA GUA MAU KONSER! TANGAN GUA SAKIT!" Aku meraung dikamar sedangan papa hanya bisa berdiri diluar memberiku semangat dengan tangisan.

          Tiba saatnya aku harus oprasi. Oprasi berhasil dan aku kehilangan tangan kananku! Padahal tinggal 1 bulan lagi waktu konserku akan tiba. Tuhan tidak adil! Aku sudah bisa beristirahat dirumah setelah rawat inap dirumah sakit selama 1 minggu. Dirumah aku duduk didepan piano, meletakan tangan kiri ku diatasnya. Aku berusaha bermain dengan indah tapi tetap saja! Aku tidak bisa! Aku butuh tangan kanan! Aku menangis dan memencet asal tuts pianoku untuk meluapkan kesedihanku. Dari belakang tiba-tiba aku merasakan pelukan hangat yang tulus. "Papa disini nak.." Kata orang yang memelukku itu. Aku melepaskan diri dari pelukannya, berlari ke kamar dan menangis sepuasnya.

              Keesokan paginya aku mencoba berlatih lagi saat tangan kiriku memencet tuts piano, ada tangan kanan yang ikut menyempurnakannya. Namun, tangan itu bukan tanganku! Tentu saja, aku sudah tidak punya tangan kanan. Dan ternyata itu adalah tangan kanan papa. Dia juga suka main piano dan ahli dalam lagu ini. Aku memainkan bagian tangan kiri dan dia memainkan bagian tangan kanan. Kadang-kadang susah untuk mengimbangi tapi aku rasa ini cukup baik. Saat aku dan dia memainkan piano, ingatan ku kembali kemasa lalu, mengingat semua perbuatan ku yang tak layak aku berikan kepada papa. Membuat aku menjadi merasa bersalah. Aku sadar, aku salah. Permainan berakhir dengan baik. "Papa akan bantu kamu bila kam mau, nak." Katanya dengan mata berkaca-kaca. Aku menatap matanya dalam-dalam dan aku temukan rasa kasih sayang yang begitu dalam dari matanya. Aku memeluknya, dia membalas pelukanku. Dan saat itu aku berkata, "aku sayang papa." Aku menangis dan papa pun ikut menangis, "papa juga sayang kamu, Cla." Untuk pertamakalinya sejak 2 tahun lalu aku tidak mau memanggil dia papa, akhirnya sekarang aku memanggil dia papa. Waktuku tinggal tersisa 2 minggu. Aku dan papa berlatih dengan giat. Hari-hari yang aku lalui jadi semakin ceria bersama dengan dia, ada papa yang selalu mengukir senyumku. Dia mengajak ku melukis, jalan-jalan, dan banyak hal lain.

2 minggu kemudian..

            Aku duduk didepan piano dan ada papa disebelah kanan ku dengan kemeja putih dan jas hitam. Sungguh, dia papa yang gagah. Aku dengan gaun putihku bersiap-siap untuk melakukan pertunjukan. Tangan kanan papa memulai permainan lagu 'melody of life' kami. Aku terus bermain dengan perasaan bahagia, papa juga. Pertunjukan berakhir sempurna, tidak ada kesalahan apapun. Aku dan papa berdiri. Suara ramai dari tepuk tangan para penonton terhenti saat melihat kondisiku yang hanya memiliki satu tangan dan papa yang hanya memiliki satu kaki. Mereka mulai menangis dan terdengar suara tepuk tangan dari satu orang, diikuti oleh beberapa orang hingga semua penonton memberikan tepuk tangan. Aku menangis dan langsung memeluk papa. Dan papa berkata di dalam pelukan, "happy birthday, Cla. Papa sayang kamu." Aku hanya menangis dan mengeratkan pelukanku. Seusai pentas, aku menghabiskan banyak waktu dengan papa dihari ulang tahunku. Aku senang. Aku telah memaafkan papa. Dan aku sadar, seburuk apapun fisik seorang anak, seorang ayah akan selalu ada untuk menyempurnakannya. I love you, Pa!

0 komentar:

Posting Komentar